Berbuka Puasa…

11 Aug 2010

Al-Imaam Abu Daawud rahimahullah berkata :
?????????? ?????? ??????? ???? ????????? ???? ??????? ????? ????????? ?????????? ??????? ???? ????????? ??????????? ??????????? ???? ??????? ?????????? ????????? ??????? ????? ??????? ???????????? ????? ???????? ????? ?????? ???????? ????? ?????????? ?????????? ??? ????? ????? ???????? ??????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???????? ????? ?????? ????????? ???????????? ?????????? ???????? ????????? ???? ????? ???????
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Yahyaa Abu Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Al-Hasan : Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Husain bin Waaqid : Telah menceritakan kepada kami Marwaan yaitu Ibnu Saalim Al-Muqaffa - , ia berkata : Aku pernah melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya dan memotong selebih dari (genggaman) telapak tangannya, lalu berkata : Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam apabila berbuka puasa berdoa : (Dzahabazh-zhoma-u wab-talatil-uruuqu wa tsabatal-ajru insya Allooh) Rasa haus telah pergi dan urat-urat telah terbasahi serta telah ditetapkan pahala insya Allah [As-Sunan, hal. no. 2357].

Diriwayatkan juga oleh An-Nasaaiy dalam Al-Kubraa (3/374 no. 3315 & 9/119 no. 10058 tahqiq & takhrij : Hasan bin Abdil-Munim Syalbiy; MuassasahAr-Risaalah, Cet. 1/1421) dan Amalul-Yaum wal-Lailah (hal. 268-269 no. 299 tahqiq : Faaruq Hamaadah; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 2/1405), Ibnus-Sunniy dalam Amalul-Yaum wal-Lailah (hal. 226 no. 478 tahqiq : Basyiir Muhammad Uyuun; Maktabah Daaril-Bayaan, Cet. 1/1407), Ad-Daaruquthniy (3/156 no. 2279 tahqiq : Syuaib Al-Arnauth, dkk; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1424), Al-Haakim (1/422 Mathbaah Majlis Daairatil-Maaarif, Cet. 1/1340), Al-Baihaqiy (4/239 4/403 no. 8133, tahqiq : Muhammad bin Abdil-Qaadir Athaa; Daarul-Kutub Al-Ilmiyyah, Cet. 3/1424), dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal (27/391 tahqiq : Basyaar Awwaad; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1413; semuanya dari jalan Aliy bin Hasan bin Syaqiiq yang selanjutnya seperti hadits di atas.
Keterangan singkat para perawi :
a. Abdullah bin Muhammad bin Yahyaa Ath-Tharasuusiy Abu Muhammad, dikenal dengan sebutan Adl-Dlaiif[1] ; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 543 no. 3623, tahqiq : Abul-Asybaal Shaghiir Al-Baakistaaniy; Daarul-Aaashimah].
b. Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq bin Diinaar Al-Abdiy Abu Abdirrahmaan Al-Marwaziy; seorang yang tsiqah lagi haafidh (137-211/212/215 H). Dipakai Al-Bukhaariy dan Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 692 no. 4740].
c. Al-Husain bin Waaqid Al-Marwaziy Abu Abdillah; seorang yang tsiqah namun mempunyai beberapa keraguan (tsiqah lahu auhaam) (w. 157/159 H). Dipakai Muslim dalam Shahih-nya [idem, hal. 251 no. 1367].
d. Marwaan bin Saalim Al-Muqaffa Al-Mishhriy; seorang yang diperselisihkan statusnya oleh para ahli hadits. Tidak ada yang mentsiqahkannya selain Ibnu Hibbaan [Ats-Tsiqaat, 5/424; Mathbaah Daairatil-Maaarif, Cet. 1/1393], dan hanya dua orang perawi yang meriwayatkan darinya (yaitu : Al-Husain bin Waaqid Al-Marwaziy dan Azrah bin Tsaabit Al-Anshaariy). Ibnu Hajar berkata tentangnya : Maqbuul [idem, hal. 931 no. 6613]. Maksudnya, riwayatnya diterima jika ada mutabaah; jika tidak, maka dlaiif. Adz-Dzahabiy berkata : Telah ditsiqahkan [Al-Kaasyif, 2/253 no. 5365, tahqiq : Ahmad Muhammad Al-Khathiib; Daarul-Qiblah, Cet. 1/1413]. Basyaar Awwaad dan Syuaib Al-Arnauth berkata : Majhuul haal [Tahriirut-Taqriib, 3/362-363 no. 6569; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1417]. Muqbil Al-Wadiiiy berkata : Majhuul haal[2] [At-Tatabbu, 1/583; Daarul-Haramain, Cet. 1/1417].
Dhaahir status dari Marwaan adalah majhuul haal. Akan tetapi ini perlu di ditinjau kembali. Ad-Daaruquthniy[3] (3/156 no. 2279) saat membawakan hadits ini berkata : Al-Husain bin Waaqid menyendiri dalam periwayatan hadits ini, dan sanadnya hasan. Semua perawi Ad-Daaruquthniy adalah perawi tsiqah, kecuali Marwaan bin Saalim Al-Muqaffa. Oleh karena itu, penghukuman Ad-Daaruquthniy tersebut merupakan dilalah penghasanan terhadap Marwaan. Wallaahu alam.
Ada yang mengatakan bahwa tahsin isnad Ad-Daaruquthniy itu maknanya adalah sanad hadits tersebut ghariib, sehingga tidak mengkonsekuensikan tahsin terhadap perawinya. Perkataan ini perlu ditinjau kembali. Benar bahwasannya sanad tersebut ghariib sebagaimana dikatakan Ad-Daaruquthniy[4]. Akan tetapi Ad-Daaruquthniy dalam Sunan-nya menjadikan hadits yang ia sifati dengan : isnaduhu hasan (sanadnya hasan) sebagai hujjah, semisal :
????? ???? ?? ???? ?????? ????? ???? ?? ????? ?? ???? ?????? ?? ??? ?? ???? ?????? ??? ???? ?? ????? ?? ??????? ?? ??? ???? ?? ??? ?? ??? ???? ??? ???? ??? ?? ???? ??????? ???? ?? ??? ???? ?????? ???? ??? ?? ?????? ?? ??? ?? ??????? ???? ????? ?????? ??????? ?? ?????? ?? ??? ???? ????? ???? ????? ???? ?? ???? ????? ???? ?????? ?? ???? ??? ??? ????? ??? ???? ??? ??? ???? ?? ???? ???? ?????? ?? ???? ??? ???? ?? ??? ????? ????? ?????? ????? ????
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad Al-Bajaliy : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Utsmaan bin Hakiim Al-Audiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Sahl bin Aamir Al-Bajaliy : Telah menceritakan kepada kami Hariim bin Sufyaan, dari Ismaaiil bin Abi Khaalid, dari Qais bin Abu Haazim, ia berkata : Aku pernah shalat di belakang Ibnu Abbaas di Bashrah, lalu ia membaca di awal rakaat dengan alhamdulillah (Al-Fatihah) dan awal ayat surat Al-Baqarah. Kemudian ia berdiri untuk rakaat yang kedua lalu membaca alhamdulillah (Al-Fatihah) dan ayat kedua dari surat Al-Baqarah. Kemudian rukuk. Setelah selesai, ia pun menghadap kami dan berkata : Sesungguhnya Allah taala befirman : Bacalah oleh kalian apa yang mudah darinya. (Ad-Daaruquthniy berkata) : Sanad hadits ini hasan. Dan padanya terdapat hujjah bagi orang yang berkata : Sesungguhnya makna perkataan lalu bacalah oleh kalian apa yang mudah darinya (Al-Quran), bahwasannya ia hanyalah dibaca setelah bacaan Al-Faatihah. Wallaahu alam [Sunan Ad-Daaruquthniy, 2/136-137 no. 1279].
Penghukuman isnaduhu hasan oleh Ad-Daaruquthniy dalam Sunan-nya juga bermakna sebagai satu tautsiq terhadap para perawinya, misalnya :
?? ???? ?? ???? ?????? ????? ????? ??????? ?? ?????? ?? ??? ?? ???? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ?? ???? ?? ???? ?? ???? ?? ????? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ???? ?? ???? ????? ????? ??? ???? ????
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Makhlad dan yang lainnya, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Haitsam : Telah mengkhabarkan kepada kami Aliy bin Ayyaasy : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Mutharrif : Telah mengkhabarkan kepada kami Zaid bin Aslam, dari Athaa bin Yasaar, dari Aaisyah, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : Sucinya setiap kulit adalah (dengan) penyamakannya. (Ad-Daaruquthniy berkata : ) Sanadnya hasan, semua perawinya tsiqaat [idem, 1/72 no. 124].
Singkatnya, tautsiq Ibnu Hibbaan juga ditetapi oleh Ad-Daaruquthniy yang menghasankannya. Oleh karena itu, perkataan yang benar tentang Marwaan bin Saalim Al-Muqaffa adalah seorang yang hasanul-hadiits (hasan haditsnya).
Kesimpulan hadits : Hasan. Dihasankan oleh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Mausuah Al-Haafidh Ibni Hajar Al-Hadiitsiyyah (2/360 no. 78 disusun oleh Al-Waliid Az-Zubairiy, dkk; Al-Hikmah, Cet. 1/1422), Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil (4/39-41 no. 920 Al-Maktab Al-Islaamiy, Cet. 1/1399), serta Aliy Al-Halabiy & Saliim Al-Hilaaliy dalam Shifatu Shaumin-Nabiy (hal. 68 Al-Maktabah Al-Islaamiyyah, Cet. 2/1409).[5]
Ini saja yang dapat dituliskan sebagaimana permintaan salah seorang rekan.
Wallaahu alam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa al-bogoriy 1 Ramadlaan 1431].

[1] Telah berkata Al-Haafidh Abu Muhammad Abdul-Ghaniy bn Saiid Al-Mishriy : Ada dua orang laki-laki mulia yang ditetapkan dengan laqab yang buruk : (1) Muaawiyyah bin Abdil-Kariim Adl-Dlaal. Ia disebut dengan laqab itu karena pernah tersesat di jalan kota Makkah. (2) Abdullah bin Muhammad Adl-Dlaiif. Ia dipanggil dengan laqab itu karena lemah dalam jasmaninya, bukan dalam haditsnya [Tahdziibul-Kamaal, 16/99].

[2] Atas faktor inilah beliau mendlaifkan riwayat ini. Begitu pula dengan Asy-Syaikh Yahyaa Al-Haajuriy yang mendlaifkannya dengan alasan kemajhulan Ibnul-Muqaffa ini - lihat : http://aloloom.net/vb/showthread.php?t=1378.

[3] Sanad Ad-Daaruquthniy sebagai berikut :
????? ?????? ?? ??????? ??? ??? ?? ???? ??? ??? ?? ????? ?? ???? ??? ?????? ?? ???? ??? ????? ?????? ??? : ???? ??? ??? ???? ??? ????? ????? ????? ??? ???? ??? :
Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Ismaaiil : Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Muslim : Telah menceritakan kepada kami Aliy bin Al-Hasan bin Syaqiiq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Husain bin Waaqid : Telah menceritakan kepada kami Marwaan Al-Muqaffa, ia berkata : Aku pernah melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya dan memotong selebih dari (genggaman) telapak tangannya, lalu berkata : .(al-hadits)..
Al-Husain bin Ismaaiil bin Muhammad Al-Mahaamiliy; seorang yang tsiqah [Siyaru Alaamin-Nubalaa oleh Adz-Dzahabiy, 15/258 dan Taraajimu Rijaali Ad-Daaruquthniy oleh Muqbil bin Haadiy Al-Waadiiy, hal. 194 no. 466].
Aliy bin Muslim bin Saiid Ath-Thuusiy; seorang yang tsiqah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 705 no. 4833].

[4] Yaitu perkataan Ad-Daaruquthniy : Al-Husain bin Waaqid menyendiri dalam periwayatan hadits ini, dan sanadnya hasan.
Jika ada orang yang mencacatkan hadits ini karena keghariban Al-Husain bin Waaqid, maka ini tidak diterima; sebab ia seorang yang tsiqah sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar. Atau, ia seorang yang hasan haditsnya sebagaimana dikatakan Al-Albaaniy dan yang lainnya. Penyendirian Al-Husain tidaklah memudlaratkan riwayatnya jika tidak ada penyelisihan dengan riwayat lainnya, dan di sini tidak ada.

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/08/takhrij-doa-berbuka-puasa-dzahabadh.html


TAGS


-

Author

Follow Me