Doa Nabi, Doa Terbaik

13 Jul 2010

Sungguh indah apa yang dinyatakan oleh Imam Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Al Qurthubi rahimahullah, beliau mengatakan,

??????? ???????????? ???? ???????????? ??? ??? ??????? ????? ?????????? ?????????? ???? ?????????? ???????? ??? ??????? ????? ???????? ??????????? ????? ??????? ????? ???????? ???? ???????? ??????????? ??????????????? ????????????? ?????? ??????????

Seyogyanya seorang menggunakan doa-doa yang tercantum dalam Al Qur-an dan berbagai hadits yang shahih (valid berasal dari nabi-peny) serta meninggalkan berbagai doa yang tidak bersumber dari keduanya. Janganlah ia mengatakan, Saya telah memilih doa[2] sendiri (untuk diriku), karena Allah taala telah memilihkan dan mengajarkan berbagai doa kepada nabi dan para wali-Nya (dalam Al Qur-an dan sunnah nabi-Nya) .[3]

Wejangan dan Kritik

Perkataan beliau di atas merupakan wejangan sekaligus kritikan. Merupakan wejangan, karena beliau menasihati kita sebagai kaum muslimin untuk menggunakan berbagai doa yang bertebaran di dalam Al Quran dan hadits nabi shallallahu alaihi wa sallam yang shahih, karena berbagai doa yang tercantum di dalam dua sumber tersebut merupakan wahyu yang nihil dari kesalahan.

Perkataan beliau juga merupakan kritik bagi kita yang terkadang lebih mengedepankan doa-doa buatan yang tidak bersumber dari keduanya. Terkadang, dalam meminta kebaikan kepada-Nya, atau memohon agar dihindarkan dari keburukan, kita lebih memprioritaskan penggunaan doa yang diperoleh dari guru-guru spiritual, mengesampingkan doa-doa yang besumber dari Al Quran dan hadits nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Al Qadhi Iyadh rahimahullah mengatakan, Allah menginginkan untuk diminta dan Dia telah memberitahukan (berbagai macam) doa di dalam kitab-Nya kepada makhluk-Nya. Begitu pula dengan nabi, beliau telah mengajar umatnya berbagai bentuk doa. Doa-doa tersebut mengandung tiga hal, yaitu ilmu tauhid, ilmu bahasa, dan nasihat kepada umat ini. Oleh karena itu, seorang tidak boleh berpaling dari doa yang diajarkan nabi shallallahu alaihi wa sallam. (Sangat disayangkan saat ini), syaithan telah memperdaya manusia dari kedudukan yang agung ini, dia mendatangkan orang-orang jahat yang merekayasa berbagai doa buatan untuk mereka, sehingga mereka pun sibuk untuk mengerjakan berbagai doa tersebut dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu alaihi wa sallam.[4]

Doa Nabi, Doa Terbaik

Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai pribadi yang paling mengenal Allah, tentulah merupakan pribadi yang paling tahu kebaikan apa yang paling pantas diminta kepada Rabb-nya, demikian pula beliau tentulah mengetahui bentuk keburukan yang paling pantas untuk dihindari. Dengan demikian, seorang muslim tatkala meminta kebaikan kepada Allah dalam doanya, hendaknya dia meminta sebagaimana permintaan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula tatkala dia memohon perlindungan dari keburukan, hendaklah dia meminta layaknya nabi shallallahu alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah taala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

?????? ????? ?? ????? ???????? ??????? ???? ??? ??? ?????? ?????? ??? ??? ?? ??? ?? ???? ????? ???? ?????? ???????? ???? ????? ???? ???? ????? ?? ??????? ????????? ???????? ????????? ???? ????? ?????

Manusia sepatutnya berdoa dengan berbagai syari yang terdapat dalam Al Quran dan sunnah, karena tidak disangsikan lagi akan keutamaan dan kebaikannya. Sesungguhnya itulah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiiqiin, syuhada, dan shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.[5]

Beliau juga mengatakan,

??? ?????? ????? ???????????? ?????????????? ???? ???????? ????????????? ??????????????? ?????????? ????? ???????????? ?????????????? ??? ????? ???????? ??????????????? ??????????????? ?????????????? ?????????????? ???? ???????? ??? ???????????? ????????????? ???? ????????? ???????????? ???????????? ????? ??????? ??????? ??????????? ?????????????? ?????????????? ??????? ???????? ??? ????????? ?????? ??????? ????? ??????? ???? ???????? ????? ???????? ???? ???????????? ???? ??????? ?????????? ?????? ??????? ?????????? ?????? ??????? ????? ?????? ?????? ??? ????????? ??????? ???????? ????????

Tidak diragukan lagi bahwa dzikir dan doa termasuk ibadah yang utama dan ibadah terbangun di atas pondasi tauqif (terima jadi dari pembuat syariat-peny) dan ittiba (mengikuti aturan syariat-peny), bukan mengikuti keinginan pribadi dan ibtida (membuat-buat sendiri). Dengan demikian berbagai doa dan dzikir yang dituntunkan oleh nabi merupakan bentuk yang terbaik. Orang yang mengikuti tuntunan nabi dalam berdoa dan berdzikir berada di atas jalan keamanan dan keselamatan. Berbagai faedah dan buah yang dipetik (oelehnya) tidak dapat diungkapkan oleh lisan dan tidak dapat diketahui oleh manusia. Adapun berbagai dzikir selain yang dituntunkan nabi terkadang berstatus haram, makruh atau bahkan berstatus kesyirikan (yang sangat disayangkan) betapa banyak orang yang tidak memperoleh petunjuk dalam hal ini.[6]

Dampak Negatif Penggunaan Doa dan Dzikir yang Diada-adakan

Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah mengatakan, Barangsiapa yang merenungkan realitas sebagian kaum muslimin, terlebih mereka yang berafiliasi kepada sebagian tarekat sufi, akan menjumpai bahwa mereka sibuk mengerjakan berbagai macam dzikir dan doa yang diada-adakan (baca: bidah). Mereka pun membacanya siang dan malam, sepanjang pagi dan petang. Dengan sebab itu, mereka pun meninggalkan (doa-doa) yang terdapat dalam Al Quran, berpaling dari berbagai doa yang berasal dari rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Setiap tarekat memiliki wirid-wirid khusus yang dibaca dengan metode tertentu, sehingga setiap tarekat sufi memiliki kumpulan wirid dan hizb khusus, setiap kelompok saling membanggakan wirid dan hizib yang dimiliki dan berkeyakinan bahwa wirid tersebut lebih afdhal daripada wirid yang dimiliki tarekat sufi yang lain.[14]

Serupa dengan penuturan Syaikh Abdurazzaq, pemaparan yang dikemukakan oleh Syaikh Muhammad al Khidr bin Mayabi Asy Syinqithi dalam kitab beliau Musytahil Kharifil Janni fii Raddi Zalaqaatit Tijanil Janni, tatkala membantah kaum sufi Tijani.

Beliau mengatakan, Sesungguhnya mereka (kaum Tijani) gemar terhadap sesuatu yang asing (yang tidak berasal dari agama ini, pent-). Oleh karena itu, anda dapat melihat mereka lebih senang untuk bershalawat dengan menggunakan lafadz-lafadz shalawat yang terdapat dalam kitab Dalaa-iul Khairaat dan yang semisalnya, padahal sebagian besar riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang shahih. Anda pun dapat melihat mereka benci untuk menggunakan berbagai lafadz shalawat yang diriwayatkan secara shahih dari nabi shallallahu alaihi wa sallam dan tercantum dalam Shahih Bukhari. Tidak akan anda temui seorang pun dari para ulama yang berwirid dengan lafadz-lafadz shalawat dari kitab tersebut (Dalaa-ilul Khairaat-pent). Perbuatan yang mereka lakukan itu tidak lain disebabkan karena kegemaran mereka terhadap sesuatu yang asing (bidah). Adapun jika kebenaran itu terlihat, tentulah seorang yang berakal, terlebih seorang ulama, tidak akan berpaling dari lafadz shalawat yang shahih dan berasal dari nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian dirinya malah beralih kepada lafadz shalawat yang tidak terdapat dalam hadits shahih, atau bahkan beralih pada lafadz shalawat yang bersumber dari mimpi-mimpi orang yang sekilas terlihat shalih.[15]

Demikianlah keadaan kaum muslimin yang terjadi saat ini. Mereka lebih mengutamakan doa dan dzikir yang diajarkan dan dituntunkan oleh syaikh, guru, ustadz, atau kyai mereka tanpa memperhatikan bersumber dari mana doa dan dzikir tersebut. Padahal sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan nabi shallallahu alaihi wa sallam jelas merupakan suatu keburukan dan memiliki dampak negatif. Tidak terkecuali dengan berbagai ragam doa dan dzikir bidah ini. Diantara dampak negatif hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Doa dan dzikir yang bidah tidak mampu memenuhi tujan peribadatan, yaitu menyucikan dan membersihkan hati dari berbagai kotoran, tidak mampu menyembuhkan berbagai penyakit yang bersarang di dalam hati, apatah lagi mendekatkan hati kepada sang Pencipta. Berbeda halnya dengan doa dan dzikir yang bersumber dari Al Quran dan hadits yang shahih, doa dan dzikir yang bersumber dari keduanya merupakan obat yang sangat berguna untuk menghilangkan berbagai kotoran dan penyakit di dalam hati. Dengan demikian orang yang lebih memilih untuk menggunakan berbagai doa dan dzikir yang bidah, adalah mereka yang lebih memilih sesuatu yang hina sebagai ganti dari sesuatu yang lebih baik.
  • Doa dan dzikir bidah tersebut menjadikan pelakunya terluput dari pahala besar yang disediakan bagi mereka yang konsisten mengerjakan dan menerapkan dengan benar berbagai doa dan wirid yang bersumber dari Al Quran dan sunnah. Mereka yang mengerjakan berbagai doa dan dzikir bidah tersebut tidak mendatangkan pahala dan manfaat bagi, justru mereka memperoleh kemurkaan Allah taala atas perbuatannya tersebut.

  • Doa yang diada-adakan (bidah) bertentangan dengan syariat, oleh karenanya sangat sulit terkabul, padahal tujuan dari berdoa adalah agar permohonan kita dikabulkan. Mengapa doa yang bidah tertolak? Karena nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

?? ??? ???? ??? ???? ????? ??? ??

Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dituntunkan dalam agama, maka amalannya tersebut tertolak.[16]

  • Berbagai doa dan dzikir yang bidah pada umumnya mengandung berbagai perkara yang mungkar, entah karena dipraktekkan dengan keliru dan tidak pada tempatnya, sebagai perantara kesyirikan, mengandung tawassul bidah, atau bahkan kesyirikan yang nyata karena memanjatkan permintaan yang hanya pantas ditujukan kepada Allah, Rabbul alamin. Contoh akan hal ini seperti qasidah dalam kitab Syawahidul Haqq[17] karya Yusuf An Nabhani ash Shufi,

?? ???? ????? ??? ???? ??????? ??? ???? ??????

?? ???? ???? ?? ?? ????? ???? ?? ??? ???? ???????

Wahai rasulullah, sesungguhnya aku tidak berdaya

Maka berilah syafaat untuk diriku, dirimulah harapanku untuk sembuh

Wahai rasululah, jika engkau tidak menolongku

Kepada siapa lagi aku berlindung[18]

  • Orang yang mempraktekkan doa dan dzikir bidah dan meninggalkan tuntunan Allah dan rasul-Nya telah membarter kebaikan dengan keburukan, mengganti sesuatu yang bermanfaat dengan yang berbahaya, dan tidak disangsikan lagi hal ini tentu merupakan kerugian yang teramat nyata.
  • Seorang yang rutin mengerjakan berbagai doa dan dzikir yang bidah pada umumnya tidak tahu akan maknanya dikarenakan berbagai wirid tersebut tersusun dari berbagai ungkapan yang asing dan tidak jelas. Padahal yang dituntut dalam berdoa dan berdzikir adalah menghadirkan hati dan ikhlas. Bagaimana bisa hal itu tercapai jika kita tidak tahu akan makna doa dan dzikir yang dipanjatkan?!

Seorang yang berdoa namun tidak tahu akan makna doa yang dipanjatkan tidak bisa dikatakan dia sedang meminta atau berdoa kepada Allah, karena dia tidak tahu apa yang sedang diminta, dia seperti seorang yang hanya menuturkan perkataan orang lain. Renungkanlah!

Waffaqaniyallahu wa iyyakum.


TAGS


-

Author

Follow Me